Case Study: The 90-Day Development Reset — 109DPM
Case Study
Project Recovery

The 90-Day
Development Reset

Ketika cash flow macet di tengah konstruksi, proyek tidak butuh dana segar lebih dulu — ia butuh diagnosis yang jujur dan keputusan yang tidak terlambat diambil.

Tipe Proyek
Residensial
Fase konstruksi aktif
Titik Intervensi
Progress fisik 40–60%
Status
Composite
Pola lapangan

“Proyek tidak berhenti karena tidak ada uang. Proyek berhenti karena tidak ada yang tahu persis berapa uang yang tersisa, berapa yang sudah terpakai, dan berapa yang masih dibutuhkan. Ketidakpastian itu yang membekukan semua keputusan.”

The problem
Cash flow yang tidak pernah dimodelkan dengan benar
Tidak ada cash flow projection yang memetakan kapan uang keluar vs. kapan uang masuk dari termin KPR atau penjualan. Proyek berjalan dengan asumsi bahwa dana akan “tersedia saat dibutuhkan.” Ketika asumsi itu salah, pekerjaan berhenti tanpa peringatan.
Termin kontraktor tidak sinkron dengan cash in proyek
Kontraktor menagih berdasarkan progress fisik. KPR cair berdasarkan jadwal bank. Penjualan masuk tidak teratur. Ketiga aliran ini tidak pernah direkonsiliasi. Ketika tagihan kontraktor jatuh di bulan yang cash in-nya minimum, proyek berhenti.
Momentum hilang menciptakan kerugian berlapis
Pekerja yang meninggalkan lokasi sulit dipekerjakan kembali. Sub-kontraktor memindahkan prioritas ke proyek lain. Material yang sudah terpasang terekspos cuaca tanpa proteksi. Kontraktor mulai memperhitungkan biaya remobilisasi — setiap bulan stagnasi menambah biaya restart yang tidak ada di RAB awal.
Kondisi tipikal saat intervensi dimulai
Progress fisik
45–55%
Dana terpakai
65–75% dari RAB
Sisa dana aktual
Tidak diketahui
Keterlambatan jadwal
Rata-rata 6–12 minggu
Status kontraktor
Menunggu pembayaran
Dokumen proyek
Tidak terupdate
Keputusan kritis
Tidak ada keputusan yang bisa diambil karena data tidak tersedia. Semua pihak menunggu pihak lain bergerak.
The process — 90-day framework
Bulan 1
Stabilisasi
Hentikan perdarahan
Bulan 2
Restrukturisasi
Reset sistem proyek
Bulan 3
Momentum
Restart dengan kendali
01
Audit posisi aktual dalam 72 jam
Sebelum keputusan apapun dibuat, tiga angka harus diketahui secara akurat: progress fisik aktual (bukan estimasi kontraktor), total biaya yang sudah dikeluarkan, dan sisa dana yang benar-benar tersedia. Tanpa ketiga angka ini, semua diskusi tentang solusi hanya spekulasi. Audit ini dilakukan independen dari kontraktor yang sedang berjalan.
02
Triage pekerjaan: lindungi yang kritis, defer yang bisa ditunda
Tidak semua pekerjaan yang belum selesai punya urgensi yang sama. Struktur yang terbuka, atap yang bocor, dan sistem drainase yang belum selesai adalah prioritas mutlak karena kerusakannya bertambah setiap hari. Finishing interior, landscape, dan pekerjaan dekoratif bisa di-defer. Triage ini menentukan ke mana sisa dana diarahkan terlebih dulu.
03
Renegotiasi termin kontraktor berbasis cash flow aktual
Lebih baik memilih proyek yang berjalan lambat daripada proyek yang berhenti sepenuhnya. Dengan data audit di tangan, renegotiasi dilakukan secara terbuka: ini posisi keuangan aktual proyek, ini jadwal pembayaran yang realistis berdasarkan cash in yang bisa dikonfirmasi. Transparansi di tahap ini lebih efektif dari janji yang tidak bisa dibuktikan.
04
Bangun cash flow model 90 hari ke depan
Bukan proyeksi optimistis — tapi model dengan tiga skenario: best case, base case, dan worst case. Setiap skenario memetakan minggu per minggu kapan cash out terjadi, kapan cash in dikonfirmasi, dan dari mana gap yang harus diisi. Model ini menjadi dasar semua keputusan operasional selama 90 hari berikutnya.
05
Restart dengan sistem pelaporan mingguan
Proyek yang restart tanpa sistem baru menghadapi masalah yang sama. Weekly report sederhana ditetapkan: progress fisik vs. target, biaya aktual vs. anggaran, dan status pembayaran kontraktor. Bukan untuk birokrasi — tapi untuk memastikan masalah terdeteksi dalam hitungan hari, bukan bulan.
The outcome
90hari
Dari stagnasi ke konstruksi berjalan penuh
<8%
Cost overrun aktual vs. RAB awal
0
Kontraktor yang putus kontrak pasca-reset
Yang paling kritis: proyek tidak butuh suntikan dana besar untuk restart. Ia butuh kejelasan posisi, keputusan yang segera diambil, dan sistem yang membuat semua pihak bisa bekerja dengan ekspektasi yang sama. Dana yang “tidak cukup” sering ternyata cukup — ketika sudah tahu persis ke mana ia harus pergi.
Key insight
Proyek tidak macet karena kehabisan uang — ia macet karena kehilangan visibilitas.
Ketika tidak ada yang tahu persis posisi aktual proyek, semua pihak memilih diam. Dan diam di tengah konstruksi adalah keputusan yang paling mahal.
Cash flow model bukan dokumen akuntansi — ini alat keputusan.
Proyek yang punya model cash flow yang diupdate mingguan hampir tidak pernah terjebak dalam krisis likuiditas. Krisis selalu bisa ditandai awal — tapi hanya terlihat jika ada sistem yang memperlihatkannya.
Transparansi kepada kontraktor lebih kuat dari sekadar janji pembayaran.
Kontraktor yang memahami posisi aktual proyek — dan percaya bahwa informasinya jujur — jauh lebih kooperatif dalam restrukturisasi daripada kontraktor yang diberi janji tanpa data.
109DPM Avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

109DPM